Indonesia Kalah Saing? Intip Kondisi Publikasi Sains & Teknik Kita Dibanding Malaysia

Indonesia punya PR besar nih di bidang publikasi ilmiah, khususnya sains dan teknik. Dibandingkan negara tetangga, Malaysia, jumlah publikasi internasional kita masih jauh ketinggalan. Ini jadi lampu kuning yang memicu berbagai upaya pembenahan kualitas riset di tanah air.

Indonesia Kalah Saing? Yuk, Intip Perbandingan Publikasi Sains & Teknik Kita dengan Malaysia

Kualitas publikasi ilmiah sering jadi tolok ukur kemajuan sains dan teknologi suatu negara. Sayangnya, Indonesia masih berjuang menghasilkan publikasi berkualitas yang bisa bersaing di level internasional. Kalau dibandingkan dengan Malaysia, yang populasinya jauh lebih kecil, kesenjangannya cukup mencolok.

Sebenarnya, Seberapa Jauh Sih Perbandingan Publikasi Kita dengan Malaysia?

Ada laporan menarik nih dari United States National Science Foundation (NSF) berjudul “Publication Output: U.S Trends and International Comparisons.” NSF ini semacam BRIN-nya Amerika, fokus mendanai dan meneliti sains dan teknik.

Data dari laporan itu menunjukkan di tahun 2020, China menghasilkan publikasi terbanyak, disusul Amerika Serikat, Jepang, lalu Indonesia. Malaysia ada di urutan kelima. Sekilas, jumlah publikasi Indonesia memang lebih banyak dari Malaysia. Tapi, kalau dilihat lebih detail dengan mempertimbangkan jumlah penduduk, ceritanya jadi beda.

Data Publikasi: Jumlah vs. Jumlah Penduduk

Kalau dihitung berdasarkan jumlah publikasi per 1 juta penduduk, Indonesia langsung ketinggalan jauh. Publikasi sains dan teknik kita hanya seperlima dari jumlah publikasi per kapita di Malaysia! Ini artinya, produktivitas riset di Malaysia jauh lebih tinggi daripada Indonesia, setidaknya kalau diukur dari output publikasi ilmiah.

Perbandingan ini makin terasa perih kalau kita lihat data publikasi di bidang ilmu komputer. Indonesia cuma menghasilkan 13 publikasi per 1 juta penduduk, sementara Malaysia bisa sampai 74! Jom, Malaysia! Angka ini jelas alarm buat kita untuk segera berbenah.

Baca Juga:  Cara Ampuh Hindari Jurnal Predator, BRIN Beri Masukan untuk Publikasi Ilmiah yang Lebih Baik

Kenapa Ya, Kok Bisa Begini? Rendahnya Kolaborasi Internasional Jadi Salah Satu Faktor

Salah satu yang diduga jadi penyebab rendahnya kualitas publikasi Indonesia adalah minimnya kolaborasi internasional. Data menunjukkan, cuma sekitar 20% publikasi sains dan teknik kita yang melibatkan peneliti dari negara lain sebagai rekan penulis. Bandingkan dengan Amerika Serikat (40%) atau Malaysia (50%). Jauh, kan?

Padahal, kolaborasi internasional itu banyak manfaatnya. Bisa meningkatkan kualitas penelitian, memperluas jaringan riset, dan bikin publikasi lebih dikenal di dunia. Dengan berkolaborasi, peneliti Indonesia bisa belajar dari pengalaman dan keahlian peneliti lain, plus dapat akses ke sumber daya dan fasilitas penelitian yang lebih canggih.

Parahnya Lagi: Minim Kontribusi di Publikasi Paling Banyak Dikutip

Yang lebih bikin khawatir adalah proporsi kontribusi Indonesia dalam 1% publikasi sains dan teknik yang paling banyak dikutip (top 1% most cited publication). Amerika Serikat menyumbang 1,58% dari publikasi tersebut, Malaysia 0,90%, sementara Indonesia cuma 0,18%! Di bidang ilmu komputer, bahkan nggak ada satupun penulis dari Indonesia yang tercatat sebagai penulis dalam top 1% most cited publication. Sedih!

“Ini tantangan besar buat kita. Kita harus kerja keras meningkatkan kualitas riset kita, biar bisa menghasilkan publikasi yang nggak cuma banyak, tapi juga berkualitas dan berdampak,” ujar seorang peneliti senior di salah satu universitas terkemuka di Indonesia yang minta namanya dirahasiakan.

Program Garuda ACE: Salah Satu Cara Pemerintah Dongkrak Kualitas Riset

Pemerintah sadar kok sama kondisi ini. Melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), mereka meluncurkan berbagai program untuk meningkatkan kualitas riset dan publikasi ilmiah. Salah satunya adalah program Garuda Academic of Excellence (ACE).

Baca Juga:  IPB Juarai Daftar Kampus Riset Interdisipliner Terbaik di Indonesia versi THE 2026!

Program ini khusus buat mahasiswa sarjana dan magister. Mereka bakal dapat pelatihan riset dan bahasa Inggris selama 6 bulan. Tujuannya? Biar kemampuan riset mereka meningkat dan bisa menghasilkan publikasi ilmiah yang berkualitas dan bersaing di tingkat internasional. Harapannya, Garuda ACE bisa menyiapkan sumber daya manusia yang jago riset dan berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia.

“Garuda ACE adalah salah satu upaya kami untuk mengejar ketertinggalan. Kami berharap program ini bisa menghasilkan generasi peneliti muda yang berkualitas dan mampu membawa nama Indonesia di kancah internasional,” kata seorang pejabat Kemendikbudristek.

Meningkatkan kualitas publikasi ilmiah memang PR besar buat Indonesia. Selain program pemerintah, butuh juga dukungan dari berbagai pihak, termasuk universitas, lembaga penelitian, dan industri. Kolaborasi erat antara akademisi, peneliti, dan praktisi industri diharapkan bisa menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat dan meningkatkan daya saing bangsa.

Ke depannya, Indonesia perlu fokus mengembangkan riset di bidang-bidang strategis yang punya potensi besar untuk mendongkrak perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, meningkatkan kualitas pendidikan sains dan teknologi, serta mendukung peneliti muda juga jadi kunci untuk mencapai kemajuan yang berkelanjutan di bidang riset dan publikasi ilmiah. Dengan upaya yang berkelanjutan dan terarah, semoga Indonesia bisa mengejar ketertinggalannya dan jadi pemain utama di bidang sains dan teknologi di tingkat global.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja