Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta terus menghadirkan alumni yang unggul secara akademik, matang dalam kepemimpinan, serta peka pada pengabdian. Salah satu sosok yang menonjol adalah Enrico Ananda Budiono, alumnus Fakultas Kedokteran (FK) UNS angkatan 2019, yang mencatat 44 presentasi karya ilmiah di 28 konferensi nasional maupun internasional. Di luar capaian akademik, ia aktif dalam misi kemanusiaan pascabencana dan konsisten berbagi ilmu—terutama melalui kelas-kelas EKG. Saat ini, ia menjalani program internship sebagai dokter di RSUD Temanggung.
Profil Singkat Enrico Ananda Budiono (Alumni FK UNS 2019)
Enrico dikenal sebagai dokter muda yang menggabungkan tiga kekuatan utama: prestasi ilmiah, pengalaman organisasi, dan kepedulian sosial. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana hingga profesi dokter selama 6,5 tahun dengan predikat cumlaude, sekaligus menata rekam jejak riset dan publikasi yang solid.
Sorotan capaian utama:
- 44 presentasi karya ilmiah di 28 konferensi.
- 12 publikasi: 7 artikel terindeks Scopus, 3 prosiding terindeks Scopus, dan 2 publikasi terindeks SINTA.
- 7 penghargaan kompetisi ilmiah bidang kardiovaskular.
- Inisiator program belajar EKG rutin dengan total sekitar 400 peserta.
- Penggerak bakti sosial kesehatan gratis untuk sekitar 200 masyarakat di Puskesmas Juwangi, Boyolali.
Filosofi “Dokter” sebagai Pendidik: Docere dan Docendo Discimus
Bagi Enrico, profesi dokter tidak berhenti pada diagnosis dan terapi. Ia memaknai kata “dokter” dari akar bahasa Latin docere yang berarti mengajar. Orientasi ini tampak nyata dalam kebiasaannya membangun ruang belajar bagi sejawat—sebuah praktik yang menguatkan prinsip docendo discimus: kita belajar dengan mengajar.
Dalam ekosistem pendidikan kedokteran, filosofi ini melahirkan pola kerja yang jelas:
- Menguasai materi melalui praktik klinis dan diskusi.
- Menyusun materi ajar agar logis dan mudah diikuti.
- Mendiseminasikan ilmu secara konsisten, gratis, dan berbasis kebutuhan rotasi klinik.
Perjalanan Akademik Cumlaude dalam 6,5 Tahun: Terstruktur, Aktif, dan Produktif
Menyelesaikan pendidikan sarjana hingga profesi dokter dalam 6,5 tahun dengan predikat cumlaude menuntut konsistensi yang rapi: manajemen waktu, prioritas, dan ketahanan mental. Enrico mengisi periode tersebut bukan hanya dengan pembelajaran formal, tetapi juga dengan aktivitas organisasi, riset, kompetisi ilmiah, dan pengabdian.
Kami melihat model perjalanan ini sebagai kombinasi dari:
- Fondasi akademik kuat sejak preklinik.
- Penguatan soft skill melalui kepemimpinan.
- Kedisiplinan ilmiah lewat riset dan publikasi.
- Kepekaan kemanusiaan melalui misi sosial.
Jejak Organisasi Mahasiswa FK UNS: Kepemimpinan yang Membentuk Karakter Klinis
Selama masa preklinik (S-1 Kedokteran), Enrico mengambil peran penting di berbagai organisasi:
- Ketua Umum AMSA FK UNS (Asian Medical Students’ Association).
- Kepala Divisi Medis PMPA Vagus FK UNS.
- Memimpin Divisi Diklat MER-C FK UNS.
- Asisten Laboratorium Fisiologi FK UNS.
Ketika memasuki koasisten, kepemimpinan tersebut berlanjut:
- Wakil Ketua HMPPD FK UNS.
- Ketua Simposium FK UNS “Prophylaxis”, yang menghadirkan tokoh penting di bidang penyakit dalam.
Rangkaian peran ini membentuk kompetensi yang relevan untuk dunia klinik: komunikasi, koordinasi tim, pengambilan keputusan, serta ketahanan dalam tekanan—semuanya menjadi modal besar bagi dokter muda.
44 Presentasi di 28 Konferensi: Strategi Membangun Portofolio Ilmiah yang Konsisten
Capaian 44 presentasi di 28 konferensi tidak lahir dari kebetulan. Ini adalah hasil dari kebiasaan ilmiah yang dibangun sejak dini: memilih topik, mengeksekusi riset, menulis abstrak, dan mempresentasikan temuan secara berulang hingga kualitas meningkat.
Pola kerja ilmiah yang dapat kami petakan dari capaian ini
- Riset sebagai rutinitas, bukan aktivitas sesekali.
- Konferensi sebagai ruang uji: mengasah argumentasi, menerima masukan, memperbaiki metodologi.
- Presentasi sebagai akselerator publikasi: materi yang matang di forum ilmiah cenderung lebih siap menjadi manuskrip.
Mengapa konferensi penting bagi dokter muda
- Menguatkan kemampuan evidence-based practice.
- Melatih komunikasi ilmiah di depan audiens profesional.
- Memperluas jejaring akademik dan kolaborasi lintas institusi.
- Mengasah ketajaman klinis melalui pembacaan literatur yang disiplin.
Publikasi Ilmiah Enrico: 12 Karya, Scopus, Prosiding, dan SINTA
Enrico juga membukukan 12 publikasi dengan rincian:
- 7 artikel terindeks Scopus
- 3 prosiding terindeks Scopus
- 2 publikasi terindeks SINTA
Portofolio ini menandakan dua hal yang sangat relevan bagi dokter muda:
- Ketahanan proses: publikasi menuntut revisi, ketelitian, dan kesabaran.
- Kemampuan standar ilmiah: mengikuti kaidah metodologi, etika penelitian, dan struktur penulisan akademik.
Prestasi Kompetisi Ilmiah Kardiovaskular: 7 Penghargaan yang Menguatkan Fokus Bidang
Di bidang kardiovaskular, Enrico meraih 7 penghargaan kompetisi ilmiah. Prestasi kompetitif seperti ini umumnya menuntut ketepatan analisis, ketelitian evidence, dan kemampuan menyusun narasi ilmiah yang kuat—kompetensi yang juga dibutuhkan dalam presentasi kasus, penulisan laporan, hingga praktik klinis berbasis pedoman.
Minat Kardiologi yang Mengarah ke Peran “Periset Muda”
Minat Enrico pada kardiologi menguat saat menjalani stase kardiovaskular pada bulan kedelapan koasisten. Ia mendapatkan bimbingan intensif dari guru klinik, yang mendorongnya memandang kardiologi sebagai bidang yang bisa dijelaskan secara logis, sistematis, dan terukur—terutama lewat EKG.
Dari sini, jalur “periset muda” terbentuk secara natural:
- Mengikuti agenda ilmiah bertema kardiologi.
- Menyusun karya ilmiah yang relevan dengan kebutuhan klinik.
- Memperbanyak diseminasi di konferensi dan publikasi.
Ia juga menegaskan dorongan agar dokter muda “terpanggil” menekuni penelitian—bukan sebagai nilai tambah, melainkan sebagai standar minimum untuk tetap relevan di era kemajuan teknologi dan percepatan ilmu.
Kelas EKG: Gerakan Berbagi Ilmu yang Terukur, Terjadwal, dan Berkelanjutan
Salah satu kontribusi yang paling berdampak adalah inisiatif kelas EKG:
- Charity Class EKG dengan total 132 peserta, hasil donasi disalurkan kepada Yayasan Jantung Indonesia Pusat.
- Program belajar EKG rutin selama koasisten dengan total sekitar 400 peserta, digelar 1–2 kali per bulan, terutama menjelang peserta memasuki rotasi stase jantung.
- Bersifat gratis, sukarela, dan berorientasi pada sharing ilmu.
Mengapa EKG menjadi jembatan edukasi yang efektif
- EKG adalah keterampilan klinis yang langsung aplikatif.
- Pola interpretasi dapat dibangun lewat algoritme berpikir.
- Mengundang diskusi kasus yang meningkatkan kepercayaan diri dokter muda di klinik.
Misi Kemanusiaan Pascabencana: Pelayanan yang Tidak Selalu Berbentuk Resep
Enrico terlibat dalam sejumlah misi bantuan pascabencana:
- Erupsi Semeru (2021)
- Banjir Pekalongan (2021)
- Gempa Cianjur (2022)
Di lapangan, ia menangkap kenyataan penting: tidak semua kebutuhan korban bencana selesai dengan obat. Banyak yang membutuhkan didengar, ditemani, dan dipulihkan secara psikososial—sebuah bentuk pelayanan yang memperluas definisi “menolong”.
Pengalaman jaga posko, terutama pada jam-jam sepi, memperlihatkan dimensi empati: hadir untuk mendengarkan sering kali menjadi terapi pertama sebelum tindakan medis.
Bakti Sosial Kesehatan: Aksi Nyata Setelah Sumpah Dokter
Setelah menjalani Sumpah Dokter, Enrico menginisiasi:
- Bakti sosial kesehatan gratis bagi sekitar 200 masyarakat di Puskesmas Juwangi, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali.
- Aksi donasi untuk PMI Surakarta dan program berbagi melalui kegiatan edukasi.
Pola kontribusinya jelas: menggabungkan kompetensi klinis dengan mobilisasi komunitas—membawa dampak yang terukur sekaligus memperkuat kepercayaan publik pada layanan kesehatan.
Roadmap Karier: Dari Dokter Muda hingga Cita-cita Spesialis Jantung dan Dosen
Enrico menargetkan kelanjutan pendidikan sebagai dokter spesialis jantung, sekaligus menjaga panggilan menjadi pendidik. Kombinasi dokter–dosen menuntut dua jalur berjalan beriringan: kompetensi klinis dan produktivitas akademik.
Di sepanjang perjalanannya, ia menekankan dua pilar:
- Konsistensi
- Visi hidup yang jelas
Bagi kami, dua pilar ini tampak menjadi pengarah keputusan: memilih kegiatan organisasi yang relevan, menekuni riset yang fokus, serta menjadikan berbagi ilmu sebagai kebiasaan.
Pelajaran Praktis untuk Mahasiswa Kedokteran dan Dokter Muda: Meniru Pola, Bukan Menyalin Jadwal
Kami merangkum pola yang terlihat dari perjalanan Enrico menjadi prinsip kerja yang bisa diterapkan lintas kampus:
- Pilih satu bidang fokus (contoh: kardiologi) lalu konsisten memperdalam.
- Bangun portofolio ilmiah bertahap: abstrak → presentasi → manuskrip → publikasi.
- Jadikan mengajar sebagai metode belajar: kelas kecil, diskusi kasus, dan latihan interpretasi.
- Aktif organisasi yang relevan untuk melatih kepemimpinan dan kolaborasi.
- Terapkan pengabdian berbasis kebutuhan: layanan kesehatan, edukasi, dan dukungan psikososial.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Dicari tentang Enrico Ananda Budiono dan Capaian Ilmiahnya
Siapa Enrico Ananda Budiono?
Enrico Ananda Budiono adalah dokter alumnus FK UNS angkatan 2019 dengan capaian 44 presentasi karya ilmiah di 28 konferensi, aktif riset kardiologi, serta terlibat kegiatan sosial dan misi pascabencana.
Berapa jumlah presentasi dan konferensi yang diikuti Enrico?
Enrico mencatat 44 presentasi karya ilmiah di 28 konferensi nasional dan internasional.
Apa fokus bidang yang diminati Enrico?
Minat Enrico menguat pada kardiologi/kardiovaskular, termasuk edukasi EKG dan agenda ilmiah terkait.
Di mana Enrico menjalani internship?
Ia menjalani program internship sebagai dokter di RSUD Temanggung.
Apa saja kontribusi sosial yang menonjol?
Ia terlibat dalam misi pascabencana (Semeru 2021, Pekalongan 2021, Cianjur 2022), mengadakan bakti sosial kesehatan gratis untuk sekitar 200 masyarakat, serta menginisiasi kelas EKG dan charity class.
Penutup: Model Dokter Muda yang Mengajar, Meneliti, dan Mengabdi
Perjalanan Enrico Ananda Budiono memperlihatkan profil dokter muda yang utuh: kuat secara akademik, produktif ilmiah, terlatih memimpin, dan hadir untuk masyarakat. Dari 44 presentasi di 28 konferensi hingga kelas EKG yang membentuk komunitas belajar, kontribusinya menegaskan bahwa keunggulan profesional dapat dibangun bersamaan dengan nilai kemanusiaan—secara konsisten, terukur, dan berdampak.

