Mahasiswa HI UIN Jakarta Publikasi Jurnal Terindeks SINTA 2

Kami mencatat capaian akademik dari Program Studi Ilmu Hubungan Internasional (HI) FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melalui publikasi karya ilmiah mahasiswa atas nama Khaila Meisya Permana (angkatan 2023), di bawah bimbingan Badrus Sholeh (dosen HI FISIP UIN Jakarta). (Liputan6)

Naskah yang dipublikasikan berjudul “Analysis of the Emergence of the Black Lives Matter Social Movement in the United States: Critical Theory Analysis” dan diberitakan terbit pada Jurnal Hubungan Internasional Universitas Airlangga (edisi tahun 2025), dengan penegasan bahwa jurnal tersebut berada pada peringkat SINTA 2. (Liputan6)

Dari sisi pesan institusional, capaian ini juga ditekankan sebagai contoh konkret bahwa publikasi pada jurnal terindeks SINTA 1–4 dapat digunakan sebagai pengganti tugas akhir (skripsi) sesuai kebijakan akademik internal UIN Jakarta, sebagaimana disampaikan Ketua Prodi HI. (Liputan6)

Memahami SINTA dan Makna Peringkat SINTA 2 untuk Jurnal Ilmiah

SINTA sebagai ekosistem indeksasi dan pemetaan kinerja riset

SINTA (Science and Technology Index) merupakan sistem informasi riset berbasis web yang dikelola pemerintah untuk memetakan kinerja peneliti, institusi, dan jurnal di Indonesia, termasuk aspek sitasi serta profil keilmuan. (SINTA)

Jalur jurnal masuk SINTA: ARJUNA dan proses akreditasi

Agar jurnal terindeks pada ekosistem SINTA, pengelola jurnal menjalani proses melalui ARJUNA (Akreditasi Jurnal Nasional)—mulai dari pendaftaran, penilaian, hingga penetapan status akreditasi. (SINTA)

Peringkat SINTA 1–SINTA 6 dan posisi SINTA 2

Dalam praktik publikasi akademik di Indonesia, SINTA 2 dipahami sebagai salah satu level teratas (di bawah SINTA 1) yang umumnya menandai tata kelola jurnal yang kuat, konsistensi terbit, kualitas artikel, serta proses penelaahan yang ketat. (tirto.id)

Cara Memeriksa Status SINTA Jurnal secara Akurat di Portal Resmi

Kami menekankan kebiasaan verifikasi mandiri melalui portal resmi agar rujukan peringkat jurnal tidak bergantung pada satu narasi.

Langkah ringkas verifikasi:

  1. Buka portal SINTA – Journals.
  2. Gunakan kolom pencarian judul jurnal/ISSN.
  3. Pastikan mencocokkan penerbit, ISSN (P-ISSN/E-ISSN), dan profil jurnal.
  4. Catat label akreditasi (misalnya S2/S3) dan tautan profil.

Sebagai contoh verifikasi berbasis portal, pada halaman hasil pencarian “hubungan internasional”, Jurnal Hubungan Internasional (Universitas Airlangga) tercantum S3 Accredited pada daftar portal SINTA (berdasarkan tampilan yang dapat diakses saat penelusuran). (SINTA)

Implikasi praktis: saat menyusun strategi publikasi/tugas akhir, kami menyarankan verifikasi status terbaru langsung pada portal SINTA, karena label akreditasi mengikuti periode penilaian dan dapat berbeda dari penyebutan di pemberitaan. (SINTA)

Publikasi Jurnal sebagai Pengganti Skripsi: Kerangka Kebijakan Kampus dan Payung Regulasi

Di level program studi, publikasi pada jurnal terindeks SINTA 1–4 disebut dapat menjadi pengganti skripsi sesuai kebijakan akademik UIN Jakarta (sebagaimana disampaikan Ketua Prodi HI). (Liputan6)

Baca Juga:  Penguatan Riset dan Publikasi Ilmiah Dosen FEB UBSI: Menuju Pusat Kajian Unggulan

Pada level regulasi nasional, Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023 membuka opsi bentuk tugas akhir yang lebih fleksibel (tidak tunggal pada skripsi), sehingga ruang kebijakan perguruan tinggi untuk mengarahkan tugas akhir berbasis artikel/proyek menjadi lebih luas. (Hukumonline)

Bedah Tema Artikel: Black Lives Matter 2013 dalam Lensa Teori Kritis (Critical Theory)

Titik mula gerakan: 2013 dan konsolidasi tagar menjadi gerakan

Black Lives Matter dirintis pada 2013 oleh Alicia Garza, Patrisse Cullors, dan Opal Tometi sebagai proyek pengorganisasian politik berpusat pada komunitas kulit hitam, dipicu konteks putusan hukum yang terkait pembunuhan Trayvon Martin. (Black Lives Matter)

Bagi riset HI, BLM memberi ruang analisis yang kaya: relasi negara–masyarakat, politik identitas, produksi wacana di ruang digital, hingga difusi norma dan solidaritas transnasional.

Teori kritis dalam HI: fokus pada hegemoni, emansipasi, dan produksi pengetahuan

Dalam tradisi teori kritis di Hubungan Internasional, kerja analisis diarahkan pada kritik atas praktik/institusi yang mengekalkan relasi kuasa, sekaligus orientasi pada emansipasi dan perubahan sosial. (E-International Relations)

Dengan kerangka ini, gerakan sosial dapat dibaca bukan sekadar respons spontan, melainkan arena kontestasi: siapa yang mendefinisikan “masalah”, siapa yang berkuasa membentuk “pengetahuan”, dan bagaimana struktur hegemonik memproduksi kepatuhan maupun perlawanan.

Kerangka Analisis Teori Kritis untuk Gerakan Sosial Non-Negara

1) Struktur hegemonik dan normalisasi ketidakadilan

Kami memetakan hegemoni sebagai gabungan institusi, norma, bahasa kebijakan, praktik aparat, dan legitimasi sosial yang—secara halus maupun terang—membentuk apa yang dianggap “wajar”. Dalam riset gerakan, indikatornya dapat berupa:

  • pola pembingkaian media,
  • bahasa kebijakan keamanan/ketertiban,
  • legitimasi prosedural dalam sistem hukum,
  • respons institusi terhadap kritik.

2) Emansipasi sebagai agenda normatif yang operasional

Emansipasi dapat dipetakan secara operasional melalui:

  • perubahan praktik (misalnya standar penggunaan kekuatan),
  • reformasi kebijakan (prosedur akuntabilitas),
  • transformasi wacana (dari “insiden” menjadi “pola sistemik”),
  • pelembagaan solidaritas (jejaring, dukungan lintas komunitas).

3) Kepentingan dan produksi pengetahuan

Kami menguji siapa yang memiliki otoritas epistemik: lembaga negara, media arus utama, platform digital, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil. Teori kritis memberi perangkat untuk menilai bagaimana “pengetahuan” tidak netral dan sering berkelindan dengan kepentingan, termasuk dalam pemilihan data, definisi variabel, dan penetapan narasi dominan. (E-International Relations)

4) Aktor non-negara dan kapasitas mencipta agenda

Gerakan sosial diposisikan sebagai aktor non-negara yang dapat:

  • mencipta dan menyebarkan norma,
  • menekan perubahan kebijakan,
  • membentuk koalisi,
  • menginternasionalisasi isu melalui jejaring diaspora dan organisasi global.

Panduan Menulis Artikel Jurnal SINTA untuk Mahasiswa HI

Menentukan topik HI yang “siap jurnal”

Kami menyaring topik dengan tiga kriteria praktis:

  1. Masalahnya spesifik (aktor, periode, arena, dan pertanyaan riset tegas).
  2. Kontribusi jelas (mengisi celah literatur, menawarkan pembacaan teoritis, atau memberi temuan empiris).
  3. Datanya terjangkau (dokumen kebijakan, arsip media, pidato, laporan organisasi, dataset, atau jejak digital yang dapat ditelusuri).
Baca Juga:  Strategi Akselerasi Kompetensi Riset dan Publikasi Ilmiah Guru di Kota Binjai

Contoh pola topik yang konsisten untuk jurnal HI:

  • norma dan gerakan sosial,
  • kebijakan luar negeri dan politik domestik,
  • keamanan manusia,
  • ekonomi politik internasional,
  • diplomasi digital dan diplomasi publik,
  • hak asasi manusia dan rezim global.

Membentuk pertanyaan riset yang “reviewer-friendly”

Kami memakai pola pertanyaan yang langsung “mengunci” fokus:

  • Bagaimana (mekanisme/ proses)
  • Mengapa (kondisi pemungkin/ pemicu)
  • Dalam kondisi apa (batasan/ konteks)
  • Dengan implikasi apa (konsekuensi/ kontribusi)

Contoh format:

Bagaimana struktur hegemonik dan produksi pengetahuan membentuk peluang mobilisasi BLM pada fase awal 2013, dan mekanisme emansipasi apa yang paling menonjol dalam dinamika awal gerakan?

Menyusun kerangka teori: ringkas, tajam, dan operasional

Kami menjaga bab teori tidak menjadi “ensiklopedia”. Format yang paling efektif:

  • definisi konsep inti (2–4 konsep),
  • relasi antar konsep,
  • indikator/manifestasi konsep pada kasus,
  • ekspektasi analitis (bukan hipotesis kaku, tetapi “arah pembacaan”).

Rujukan umum teori kritis HI menekankan kritik terhadap praktik yang menindas serta orientasi pada emansipasi. (E-International Relations)

Metodologi yang lazim untuk studi gerakan dalam HI

Pendekatan yang sering lolos di jurnal HI:

  • studi kasus kualitatif,
  • analisis wacana (policy discourse/media discourse),
  • process tracing (urutan peristiwa dan mekanisme),
  • analisis dokumen (putusan, laporan, pernyataan resmi),
  • netnografi ringan (jejak digital yang terdokumentasi).

Kuncinya: jelaskan sumber data, kriteria pemilihan data, dan langkah analisis secara ringkas namun audit-able.

Struktur Naskah yang Stabil untuk Jurnal HI

Kami merekomendasikan struktur berikut karena mudah ditelaah reviewer dan kompatibel dengan OJS:

  1. Judul: spesifik + kata kunci kuat (aktor–isu–teori–periode).
  2. Abstrak: tujuan, metode, temuan utama, kontribusi.
  3. Pendahuluan: masalah, gap literatur, pertanyaan riset, kontribusi.
  4. Tinjauan pustaka: peta riset terdahulu, posisi riset kita.
  5. Kerangka teori: konsep inti + operasionalisasi.
  6. Metode: desain, data, teknik analisis, keterbatasan.
  7. Temuan & analisis: paparan berbasis bukti.
  8. Diskusi: makna teoretis dan implikasi.
  9. Kesimpulan: jawaban ringkas + agenda riset lanjut.
  10. Daftar pustaka: rapih, konsisten gaya sitasi.

Checklist sebelum submit (praktis dan ketat)

Area Standar minimum yang kami pastikan
Kebaruan Ada celah literatur yang jelas dan dinyatakan eksplisit
Data Sumber dapat dilacak, logika pemilihan data dijelaskan
Teori Konsep inti operasional, tidak melebar
Analisis Temuan disangga kutipan/rujukan data yang memadai
Etika Sitasi rapi, parafrasa aman, tidak ada klaim tanpa sumber
Kepatuhan jurnal Template, gaya sitasi, panjang naskah sesuai author guidelines

Proses Submit OJS dan Cara Menangani Review Tanpa Kehilangan Arah

Tahap umum di banyak jurnal

  1. Desk evaluation (cek scope, format, kelengkapan, kemiripan).
  2. Peer review (1–3 reviewer).
  3. Revisi (minor/major, bisa beberapa putaran).
  4. Copyediting–layout–proofreading.
  5. Publish.
Baca Juga:  Menjawab Paradoks Publikasi Ilmiah: Perspektif Keadilan, Transparansi, dan Inovasi

Teknik respons komentar reviewer

Kami memakai format respons yang paling disukai editor:

  • salin komentar reviewer,
  • jawab ringkas,
  • sebutkan perubahan dan halaman/paragraf,
  • jika menolak saran, beri alasan metodologis/rujukan.

Contoh gaya kalimat respons (ringkas):

  • “Kami menambahkan definisi operasional konsep hegemoni pada Bagian 2 paragraf 3 untuk memperjelas indikator analisis.”
  • “Kami memperinci kriteria pemilihan dokumen pada Bagian Metode agar proses seleksi data dapat direplikasi.”

Dukungan Institusi dan Ekosistem Kampus untuk Mendorong Publikasi

Penguatan budaya publikasi di lingkungan kampus semakin tampak melalui program pendampingan akreditasi dan pengelolaan jurnal di UIN Jakarta, termasuk inisiatif pendampingan jurnal menuju SINTA. (lp2m.uinjkt.ac.id)

Dalam konteks mahasiswa, ekosistem dukungan yang efektif biasanya mencakup:

  • klinik penulisan artikel,
  • pendampingan metodologi,
  • pendampingan sitasi dan gaya selingkung,
  • kelas respons reviewer,
  • forum baca artikel (reading group) berbasis tema HI.

Timeline 16 Minggu dari Nol hingga Submit (Rancangan Realistis)

Minggu 1–2: topik, pertanyaan riset, peta literatur (20–40 sumber inti).
Minggu 3–4: kerangka teori + desain metode + daftar data.
Minggu 5–7: pengumpulan data + coding tematik/analisis awal.
Minggu 8–9: draft lengkap (bukan sempurna).
Minggu 10: perapihan argumen (gap–teori–metode harus “mengunci”).
Minggu 11–12: penguatan temuan, tabel/figures bila perlu.
Minggu 13: cek gaya selingkung, template, referensi, abstrak.
Minggu 14: pra-submit internal (simulasi reviewer).
Minggu 15: revisi final + metadata OJS.
Minggu 16: submit.

FAQ Publikasi Jurnal SINTA untuk Mahasiswa HI

Apakah publikasi harus SINTA 2 agar dapat menggantikan skripsi?

Pada narasi kebijakan prodi yang diberitakan, publikasi pada SINTA 1–4 disebut dapat digunakan sebagai pengganti skripsi sesuai kebijakan akademik UIN Jakarta. (Liputan6)

Bagaimana memastikan jurnal yang dituju benar-benar sesuai dan terindeks SINTA?

Kami memastikan melalui portal SINTA dan mencocokkan ISSN serta penerbit, lalu menilai kesesuaian scope artikel dengan fokus jurnal. (SINTA)

Mengapa riset BLM cocok untuk pendekatan teori kritis di HI?

Karena teori kritis menempatkan hegemoni, emansipasi, serta relasi kuasa–pengetahuan sebagai inti pembacaan, sementara BLM menyediakan kasus kaya tentang kontestasi wacana, struktur, dan mobilisasi gerakan pada lanskap politik modern. (E-International Relations)

Penutup: Standar Kerja yang Bisa Direplikasi Mahasiswa HI

Kami menempatkan capaian publikasi mahasiswa HI UIN Jakarta sebagai model kerja yang dapat direplikasi: pemilihan topik yang tajam, kerangka teori yang operasional, metodologi yang dapat diaudit, serta disiplin mengikuti proses jurnal dan respons reviewer—dengan orientasi akhir pada publikasi yang sah sebagai keluaran akademik dan, pada kebijakan tertentu, sebagai pengganti tugas akhir. (Liputan6)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja