Publikasi Scopus vs Kebermanfaatan Ilmu bagi Masyarakat: Menyatukan Reputasi Akademik dan Dampak Nyata

Dalam satu dekade terakhir, ukuran “kualitas” akademik di banyak perguruan tinggi Indonesia cenderung mengerucut pada satu hal: publikasi ilmiah internasional, khususnya jurnal terindeks Scopus bereputasi tinggi (misalnya kuartil atas). Di banyak tempat, capaian ini menjadi tolok ukur dominan untuk kenaikan jabatan akademik, insentif finansial, hingga citra institusi. Pada saat yang sama, kebutuhan masyarakat terhadap solusi yang operasional—di desa, pasar, pabrik, sekolah, puskesmas, pemerintah daerah, dan komunitas—tidak selalu bergerak seirama dengan logika publikasi global.

Kita membutuhkan cara pandang yang rapi: publikasi Scopus penting untuk memastikan riset kita hadir di percakapan ilmiah dunia, sementara kebermanfaatan ilmu bagi masyarakat menuntut perangkat kerja yang berbeda: pemahaman konteks, desain intervensi, pendampingan, implementasi, dan pengukuran dampak. Tantangannya bukan memilih salah satu, melainkan membangun jembatan agar keduanya saling menguatkan.

Peta Masalah: Ketika Publikasi Scopus Disamakan dengan Dampak Sosial

Orientasi Scopus—terutama jurnal bereputasi tinggi—menekankan:

  • ketelitian metodologis,
  • kontribusi teoretis yang spesifik,
  • kepatuhan pada debat akademik yang sering sempit dan teknis,
  • standar penulisan yang mengutamakan komunitas ilmiah internasional.

Di lapangan, kebermanfaatan ilmu menuntut:

  • solusi yang dapat dijalankan dengan sumber daya terbatas,
  • kesesuaian dengan budaya lokal dan tata kelola,
  • adaptasi pada kapasitas institusi,
  • proses pendampingan yang konsisten,
  • mekanisme adopsi oleh pengguna (petani, nelayan, UMKM, sekolah, pemda, dan komunitas).

Jika publikasi Scopus diperlakukan identik dengan manfaat sosial, maka kita berisiko memproduksi riset yang sahih secara ilmiah namun “tidak mendarat”, sementara kerja-kerja terapan yang nyata dampaknya justru dipandang “kelas dua”.

Dua Nilai yang Sama-Sama Krusial: Nilai Ilmiah Global dan Nilai Guna Lokal

1) Nilai Ilmiah Global (Global Scientific Value)

Nilai ini lahir dari:

  • penguatan teori,
  • generalisasi temuan lintas konteks,
  • pembuktian kausal/eksplanatori yang ketat,
  • pengayaan metode dan data yang dapat direplikasi,
  • kontribusi terhadap literatur internasional.

Manfaat utamanya: reputasi akademik, peningkatan kapasitas riset, standardisasi kualitas, dan posisi institusi dalam jejaring ilmiah global.

2) Nilai Guna Lokal (Local/Practical Value)

Nilai ini lahir dari:

  • relevansi langsung terhadap masalah setempat,
  • keterpakaian (usability) dalam kebijakan/operasional,
  • adopsi oleh pengguna,
  • perubahan perilaku/pendapatan/layanan,
  • ketahanan solusi terhadap dinamika sosial-politik.

Manfaat utamanya: peningkatan kesejahteraan, tata kelola yang lebih baik, produktivitas, layanan publik yang lebih efektif, dan penguatan daya saing lokal.

Kita idealnya menyusun portofolio riset yang memelihara kedua nilai ini secara terukur—bukan menukar salah satunya.

Mengapa Artikel Scopus (Termasuk Q1) Sering Tidak Langsung Menjadi Solusi Lapangan

Berikut hambatan yang paling sering muncul di banyak konteks Indonesia:

A. Kesenjangan Desain: Dari Pertanyaan Riset ke Masalah Operasional

Pertanyaan riset berorientasi jurnal sering dioptimalkan untuk novelty teoretis, sedangkan masalah masyarakat menuntut:

  • SOP,
  • modul pelatihan,
  • standar layanan,
  • format pembiayaan,
  • desain kelembagaan,
  • peta risiko implementasi.
Baca Juga:  Kampus Impian di ASEAN? Intip 20 Universitas Terbaik Versi QS 2026!

B. Kesenjangan Konteks: Keterbatasan Anggaran, SDM, dan Institusi

Solusi “optimal” di atas kertas sering tidak kompatibel dengan:

  • kapasitas aparat dan organisasi lokal,
  • ketersediaan data,
  • dinamika politik-birokrasi,
  • karakter pasar dan rantai pasok,
  • kultur komunitas.

C. Kesenjangan Hilirisasi: Tidak Ada Paket Adopsi

Temuan ilmiah tanpa “paket adopsi” biasanya berhenti pada artikel. Paket adopsi minimal mencakup:

  • panduan implementasi,
  • materi komunikasi,
  • indikator keberhasilan,
  • rencana pembiayaan,
  • peran aktor, jadwal, dan mekanisme evaluasi.

D. Kesenjangan Bahasa dan Medium

Artikel ilmiah adalah medium untuk akademisi; pemangku kepentingan sering memerlukan:

  • policy brief 2–4 halaman,
  • slide ringkas,
  • infografik,
  • modul,
  • template regulasi/SOP,
  • demo alat/prototipe.

Kerangka Integrasi: “Riset yang Terbit” dan “Riset yang Dipakai” dalam Satu Jalur

Agar publikasi Scopus dan manfaat sosial tidak saling meniadakan, kita dapat mengelola riset dalam model dua keluaran (dual output):

  • Keluaran Akademik: artikel Scopus (metode ketat, kontribusi teoretis, generalisasi).
  • Keluaran Implementatif: paket adopsi (policy brief, SOP, modul, prototipe, skema pembiayaan, rancangan program, perangkat monitoring).

Dengan pendekatan ini, satu riset tidak berhenti pada publikasi, melainkan berlanjut ke tahap operasional.

Indikator Dampak yang Lebih “Mendarat”: Dari Sitasi ke Adopsi dan Outcome

Agar kebermanfaatan ilmu tidak menjadi narasi, kita memerlukan indikator yang bisa diaudit. Kita dapat mengelompokkan dampak menjadi empat lapis:

1) Output yang Siap Pakai (Deliverables)

  • SOP/standar layanan,
  • modul pelatihan,
  • perangkat evaluasi,
  • prototipe alat/aplikasi,
  • template perjanjian/aturan,
  • peta proses bisnis.

Bukti yang kuat: dokumen final, versi revisi, dan jejak penggunaan.

2) Adopsi oleh Pengguna (Adoption)

  • jumlah organisasi yang mengadopsi,
  • jumlah peserta pelatihan yang menerapkan,
  • kontrak kerja sama implementasi,
  • integrasi dalam program pemda/instansi/komunitas.

Bukti yang kuat: SK/nota dinas, perjanjian kerja sama, laporan implementasi, data pengguna.

3) Outcome (Perubahan Nyata)

  • peningkatan pendapatan/produktivitas,
  • penurunan biaya/kerugian,
  • peningkatan kualitas layanan,
  • penurunan risiko/insiden,
  • peningkatan kepatuhan regulasi,
  • perbaikan indeks kinerja organisasi.

Bukti yang kuat: sebelum-sesudah, data administratif, evaluasi independen.

4) Skala dan Keberlanjutan (Scale & Sustainability)

  • replikasi lintas wilayah,
  • alokasi anggaran rutin,
  • lahirnya unit/kelembagaan baru,
  • pendanaan lanjutan dari pihak lain,
  • integrasi ke kurikulum/pelatihan berkala.

Bukti yang kuat: anggaran, kebijakan permanen, replikasi, dan sistem monitoring.

Strategi Memilih Topik “Glocal”: Relevan Lokal, Bermutu Global

Kita dapat menghindari dikotomi “jurnal internasional vs pengabdian” dengan merancang topik yang:

  • berangkat dari masalah lokal yang nyata,
  • tetapi memiliki struktur pertanyaan yang dapat digeneralisasi,
  • menggunakan metode yang ketat,
  • menghasilkan insight yang berguna untuk konteks lain.

Contoh pola topik glocal:

  • Pertanian: efisiensi input dan adopsi teknologi pada lahan kecil (relevan global untuk smallholders).
  • Perikanan: tata kelola rantai dingin dan kualitas pascapanen (umum pada negara maritim).
  • UMKM: akses pembiayaan dan digitalisasi operasional (tema global).
  • Kesehatan: kepatuhan layanan primer dan model intervensi berbasis komunitas (global health).
  • Hukum dan kebijakan: desain regulasi daerah yang tahan uji dan implementatif (comparative governance).
Baca Juga:  Rekapitulasi Prestasi Gemilang: Institut Al Azhar Menganti Gresik Dominasi Arjunu Awards 2026

Desain Riset Berorientasi Dampak Tanpa Mengorbankan Kualitas Publikasi

1) Ko-Desain dengan Pemangku Kepentingan Sejak Awal

Kita menetapkan sejak awal:

  • siapa pengguna utama,
  • keputusan apa yang akan dipengaruhi,
  • sumber daya implementasi,
  • batasan hukum/anggaran,
  • indikator keberhasilan yang realistis.

2) Riset yang Memproduksi “Artefak Implementasi”

Selain paper, riset menghasilkan artefak:

  • peta proses,
  • SOP,
  • modul,
  • template pelaporan,
  • dashboard sederhana.

Artefak ini menjadi jembatan paling cepat dari ilmu ke praktik.

3) Pilot Project Sebagai “Jembatan Validasi”

Pilot yang baik mencakup:

  • lokasi terpilih (representatif),
  • baseline yang jelas,
  • intervensi terukur,
  • mekanisme feedback,
  • rencana scaling.

4) Publikasi Ganda (Bukan Duplikasi)

Satu proyek menghasilkan:

  • artikel ilmiah untuk komunitas akademik,
  • policy brief untuk pengambil kebijakan,
  • modul/SOP untuk operator,
  • materi komunikasi untuk masyarakat.

Dengan begitu, dampak tidak bergantung pada satu format.

Praktik Baik di Lapangan: Portofolio Dampak yang Sering Terabaikan

A. Pendampingan Koperasi Nelayan dan UMKM Pangan Lokal

Pendampingan efektif biasanya mencakup:

  • analisis struktur biaya dan margin,
  • desain skema pembiayaan koperasi,
  • perbaikan pencatatan sederhana,
  • negosiasi dengan pembeli dan pemasok,
  • tata kelola rantai pasok lokal.

Dampak yang mudah diukur:

  • margin naik, loss turun,
  • cashflow lebih stabil,
  • akses pembiayaan membaik,
  • volume penjualan meningkat.

B. Penyusunan Naskah Akademik dan Rancangan Peraturan Daerah

Kontribusi nyata dalam kebijakan daerah sering berupa:

  • harmonisasi norma,
  • analisis implikasi fiskal,
  • desain klausul implementatif,
  • peta aktor dan risiko,
  • panduan turunan (perbup/perwali, SOP).

Dampak yang mudah diukur:

  • regulasi berjalan operasional,
  • tahan uji (lebih minim pembatalan),
  • kepatuhan meningkat karena aturan lebih jelas.

C. Riset Metode Canggih yang Sulit Dioperasionalkan

Bukan berarti tidak bernilai—tetapi biasanya memerlukan:

  • penerjemahan kebijakan,
  • penyederhanaan asumsi,
  • penyesuaian terhadap kapasitas implementasi,
  • pengemasan ulang temuan dalam format keputusan.

Kuncinya: menambahkan lapisan hilirisasi agar hasil riset tidak berhenti sebagai angka dan model.

Kebijakan Insentif yang Seimbang di Tingkat Prodi, Fakultas, dan Universitas

Agar sistem tidak mendorong perilaku “publikasi saja”, kita dapat mengembangkan kebijakan portofolio:

1) Skema Insentif Berbasis Portofolio Kinerja

  • publikasi Scopus: bobot jelas,
  • artefak implementasi: bobot jelas,
  • adopsi oleh pemda/komunitas: bobot jelas,
  • outcome terukur: bobot tertinggi,
  • replikasi dan keberlanjutan: bobot premium.

2) Jalur Karier Akademik yang Mengakui Dampak Terapan

Kita dapat menata penilaian kinerja agar:

  • dosen yang kuat di hilirisasi tidak “tertinggal”,
  • dosen yang kuat di publikasi tetap terdorong menerjemahkan temuan,
  • kolaborasi lintas peran menjadi normal (tim publikasi + tim implementasi).
Baca Juga:  Strategi Unggul Pengelolaan Jurnal Ilmiah Berbasis OJS untuk Indeksasi Nasional dan Internasional

3) Unit Hilirisasi yang Operasional

Institusi membutuhkan fungsi yang membantu dosen:

  • pengelolaan kemitraan,
  • desain program dan Monev,
  • pengemasan pengetahuan (policy brief, modul),
  • tata kelola kekayaan intelektual (bila relevan),
  • dokumentasi dampak.

Template “Paket Adopsi” yang Praktis untuk Pengabdian Berbasis Riset

Agar kebermanfaatan terstruktur, paket minimal dapat kita susun seperti berikut:

  1. Ringkasan masalah dan target perubahan (1 halaman)
  2. Profil pengguna dan konteks implementasi
  3. Intervensi inti (apa yang dilakukan, oleh siapa, berapa lama)
  4. SOP langkah demi langkah
  5. Kebutuhan sumber daya (SDM, biaya, alat, data)
  6. Risiko dan mitigasi
  7. Indikator keberhasilan (output–outcome–skala)
  8. Rencana monitoring (format laporan, frekuensi)
  9. Materi pendukung (modul, template, alat ukur)

Dengan format ini, solusi lebih mudah diadopsi dan dievaluasi.

Panduan Eksekusi: Checklist 90 Hari Mengubah Riset Menjadi Dampak

Minggu 1–2: Penajaman Masalah dan Aktor

  • petakan pengguna utama dan keputusan yang dipengaruhi,
  • tetapkan indikator outcome yang realistis,
  • siapkan baseline data minimal.

Minggu 3–6: Ko-Desain dan Produksi Artefak

  • susun SOP/modul/prototipe,
  • validasi cepat dengan pengguna (focus group kecil),
  • tetapkan mekanisme umpan balik.

Minggu 7–10: Pilot dan Perbaikan

  • jalankan uji coba terbatas,
  • dokumentasikan hambatan implementasi,
  • revisi artefak hingga benar-benar operasional.

Minggu 11–13: Adopsi dan Pelembagaan

  • susun policy brief untuk pemangku kebijakan,
  • kunci komitmen kelembagaan (SK, MoU, integrasi program),
  • rancang rencana scaling dan Monev berkala.

FAQ: Pertanyaan yang Sering Muncul tentang Publikasi Scopus dan Kebermanfaatan Ilmu

Apakah publikasi Scopus Q1 selalu tidak relevan untuk masyarakat?

Tidak. Publikasi Scopus Q1 sangat relevan bila kita menambahkan jalur hilirisasi: artefak implementasi, pilot, dan adopsi oleh pengguna.

Apakah pengabdian masyarakat tanpa Scopus tetap bernilai tinggi?

Ya, terutama bila ada bukti adopsi dan outcome terukur. Nilai guna tidak ditentukan oleh indeksasi, melainkan oleh perubahan nyata yang dapat diverifikasi.

Bagaimana cara menjaga kualitas ilmiah sekaligus berdampak?

Kita menjaga ketelitian metode, tetapi sejak awal memasukkan variabel implementasi: konteks, sumber daya, tata kelola, dan desain adopsi.

Apa indikator dampak yang paling meyakinkan?

Yang paling meyakinkan adalah kombinasi: artefak siap pakai + bukti adopsi + outcome sebelum-sesudah + keberlanjutan (anggaran/kebijakan rutin).

Penutup: Standar Baru Keunggulan Akademik yang Lebih Utuh

Keunggulan akademik yang utuh tidak berhenti pada “terbit di Scopus”, dan kebermanfaatan sosial yang kuat tidak cukup hanya berupa cerita tanpa bukti. Kita dapat menyatukan keduanya melalui portofolio kinerja yang seimbang: riset bermutu yang dipublikasikan secara global, sekaligus diterjemahkan menjadi paket adopsi, diujicobakan, diadopsi, menghasilkan outcome, lalu diskalakan.

Dengan pendekatan ini, reputasi ilmiah dan dampak nyata bukan dua kutub yang saling meniadakan, melainkan dua sisi dari satu misi: ilmu yang diakui dan ilmu yang dipakai.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja