Strategi Menulis KTI Layak Publikasi

Dalam lanskap akademik modern, kemampuan menyusun Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang tidak hanya memenuhi standar akademik tetapi juga layak tembus ke jurnal bereputasi adalah sebuah keharusan. Kami di Departemen Kajian dan Riset KSEI RUMAH EKIS IAIN Bone memahami sepenuhnya urgensi ini. Melalui artikel ini, kami menyajikan ulasan mendalam dan komprehensif mengenai strategi penulisan ilmiah, yang disarikan dari kesuksesan agenda Workshop “Smart Writing for Smart Researcher” dalam rangkaian Islamic Economic Fest (IEF) X Tahun 2025.

Artikel ini dirancang sebagai referensi otoritatif bagi mahasiswa dan peneliti muda untuk memahami esensi publikasi ilmiah, mulai dari fundamental riset hingga teknis Systematic Literature Review (SLR).

Urgensi Publikasi Ilmiah dalam Ekosistem Akademik Mahasiswa

Publikasi ilmiah bukan sekadar syarat kelulusan, melainkan bukti kontribusi intelektual seorang mahasiswa terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. Pada Sabtu, 20 Desember 2025, bertempat di Aula Utama Kampus I IAIN Bone, kami memfasilitasi transfer pengetahuan krusial ini. Dengan menghadirkan akademisi berkompeten, Aisyah Nursyam, S.Pd., M.Pd., workshop ini menegaskan komitmen kami dalam mencetak peneliti yang “cerdas” dalam strategi dan eksekusi.

Fokus utama kami adalah menjembatani kesenjangan antara ide penelitian mahasiswa dengan standar ketat jurnal ilmiah nasional maupun internasional. Melalui pemaparan yang terstruktur, kami mengidentifikasi bahwa hambatan terbesar mahasiswa seringkali bukan pada ketiadaan ide, melainkan pada ketidakmampuan menuangkan ide tersebut ke dalam struktur metodologis yang rigid namun mengalir.

Anatomi KTI yang Layak Publikasi: Indikator Kualitas Utama

Berdasarkan wawasan yang dibedah dalam workshop tersebut, kami merangkum parameter vital yang menentukan diterima atau ditolaknya sebuah naskah ilmiah. Sebuah KTI dikatakan berkualitas tinggi apabila memenuhi kriteria berikut secara holistik:

1. Masalah Penelitian yang Tajam dan Relevan

Fondasi dari setiap riset adalah research problem. Kami menekankan bahwa masalah tidak boleh hanya berdasarkan asumsi, melainkan harus didukung oleh data empiris atau kesenjangan teoretis (theoretical gap). Peneliti harus mampu menjawab pertanyaan “So What?”—mengapa masalah ini penting untuk diteliti sekarang?

Baca Juga:  Misteri Alam Semesta, 5 Teka-teki yang Bikin Ilmuwan Penasaran

2. Landasan Teori yang Mutakhir (State of the Art)

Penggunaan referensi lawas seringkali menurunkan kredibilitas tulisan. Kami mendorong penggunaan literatur primer (jurnal ilmiah) terbitan 5-10 tahun terakhir untuk memastikan bahwa argumen yang dibangun relevan dengan diskursus akademik terkini.

3. Metodologi yang Transparan dan Replicable

Transparansi adalah kunci. Baik menggunakan pendekatan kualitatif maupun kuantitatif, peneliti wajib menjabarkan prosedur pengambilan data dan analisis secara rinci sehingga penelitian tersebut dapat direplikasi atau diaudit validitasnya oleh peneliti lain.

4. Analisis Mendalam dan Kontribusi Ilmiah (Novelty)

Bagian pembahasan (discussion) adalah jantung dari artikel. Kami menyarankan mahasiswa untuk tidak sekadar menyajikan data, tetapi melakukan dialog antara temuan riset dengan teori yang ada. Di sinilah letak novelty atau kebaruan—apa sumbangsih pemikiran baru yang ditawarkan riset ini bagi khazanah keilmuan?

Implementasi Systematic Literature Review (SLR) dan Metode PRISMA

Salah satu sorotan utama dalam agenda IEF X 2025 adalah pengenalan metode Systematic Literature Review (SLR). Kami melihat SLR sebagai solusi strategis bagi mahasiswa yang ingin menghasilkan publikasi berkualitas tinggi tanpa terkendala keterbatasan akses data lapangan.

SLR adalah metode penelitian berbasis bukti (evidence-based) yang dilakukan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menginterpretasi seluruh penelitian yang relevan dengan pertanyaan penelitian tertentu. Metode ini sangat efektif untuk artikel tipe conceptual paper atau pemetaan riset (bibliometric analysis).

Menggunakan Protokol PRISMA

Untuk memastikan SLR dilakukan secara objektif dan sistematis, kami merekomendasikan penggunaan protokol PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses). Penerapan PRISMA membantu peneliti menghindari bias dalam pemilihan literatur.

Dalam praktiknya, tahapan di atas mencakup:

  • Identifikasi: Melakukan pencarian kata kunci pada database bereputasi (Scopus, WoS, Google Scholar).

  • Screening: Menyaring artikel berdasarkan judul dan abstrak.

  • Eligibility: Membaca teks lengkap (full-text) untuk menentukan kelayakan sesuai kriteria inklusi dan eksklusi.

  • Included: Artikel final yang akan dianalisis untuk menjawab rumusan masalah.

Baca Juga:  Pendampingan Publikasi Ilmiah Mahasiswa Pascasarjana Secara Intensif

Manajemen Referensi Digital dan Integritas Akademik

Kualitas sebuah karya ilmiah juga dinilai dari kedisiplinan sitasinya. Dalam sesi workshop, kami menegaskan bahwa manajemen referensi bukan sekadar masalah teknis, melainkan etika akademik. Kesalahan dalam sitasi dapat berujung pada tuduhan plagiarisme yang fatal bagi karir akademik.

Kami sangat menganjurkan penggunaan perangkat lunak manajemen referensi (seperti Mendeley, Zotero, atau EndNote). Penggunaan alat ini memberikan keuntungan signifikan:

  1. Konsistensi Gaya Selingkung: Memastikan seluruh kutipan mematuhi standar gaya sitasi yang diminta, seperti APA Style Edisi ke-7 yang kini menjadi standar global dalam ilmu sosial dan ekonomi.

  2. Efisiensi Waktu: Memungkinkan pembuatan daftar pustaka (bibliography) secara otomatis dalam hitungan detik.

  3. Database Personal: Memudahkan peneliti menyimpan dan mengorganisir ribuan metadata artikel untuk penggunaan jangka panjang.

Komitmen KSEI RUMAH EKIS IAIN Bone

Keberhasilan penyelenggaraan workshop ini, yang ditutup dengan sesi interaktif dan pemberian apresiasi kepada narasumber, menandai langkah progresif KSEI RUMAH EKIS dalam membangun iklim akademik yang prestatif di IAIN Bone. Kami percaya bahwa dengan pemahaman mendalam mengenai metodologi riset, penguasaan tools seperti SLR dan PRISMA, serta disiplin dalam manajemen referensi, mahasiswa mampu menembus jurnal-jurnal bereputasi tinggi.

Kami mengundang seluruh civitas akademika untuk terus berkolaborasi dan meningkatkan kapasitas diri demi kemajuan publikasi ilmiah di Indonesia.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja